METODE MAU’IDHAH RASULULLAH
METODE MAU’IDHAH RASULULLAH
PENDAHULUAN
Dakwah adalah jalan menuju Islam. Artinya adalah panggilan dari Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW kepada umat manusia untuk mengikuti ajaran Islam, dengan iman dan ketaatan kepada Allah SWT. Berperilaku sesuai dengan aqidah dan syariat Islam. Islam adalah agama yang memeluk dan mengatur segala aspek kehidupan manusia untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT.
Dakwah merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Kewajiban ini terkait dengan upaya untuk meningkatkan kesadaran dan pendalaman pemahaman, keyakinan, dan pengalaman ajaran Islam. Sehingga dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dan berdampak positif bagi kehidupan masyarakat, bahkan lebih baik dari sebelumnya.
Dakwah itu sendiri, sebagaimana kita ketahui, berarti mengajak, menyeru manusia ke jalan kebenaran, beramal dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.
Dakwah juga merupakan tugas Rasulullah dan menjadi tauladan bagi kita semua. Dakwah membutuhkan pengorbanan tanpa mengharapkan imbalan dan hasil langsung, tanpa putus asa. Orang-orang yang berdakwah akan memperoleh kehidupan yang barokah dalam keridhaan Allah dan akan menerima kasih sayang Allah, akan menerima rahmat Allah, dan akan menerima banyak pahala sebagai imbalannya, karena dakwah adalah amal terbaik yang dapat mengeluarkan potensi kita dan menegakkan keimanan. Dalam berdakwah kita harus menggunakan
metode-metode tertentu, agar orang yang mendengarkan dakwah kita dapat yakin
dan mau mengamalkan apa yang telah kita sampaikan kepaad mereka. Pada kesempatan
kali ini penulis akan sedikit mengkaji bagaimana metode mau’idhah Rasulullah
SAW dalam suatu hadist yang telah diriwayatkan.
PEMBAHASAN
Salah satu hadist yang menjelaskan metode mau’idhah
Rasulullah yakni HR. Bukhari No. 88. Berikut ayat serta artinya:
صحيح
البخاري ٨٨: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ قَالَ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ ابْنِ
أَبِي خَالِدٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ
قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَا أَكَادُ أُدْرِكُ الصَّلَاةَ مِمَّا يُطَوِّلُ
بِنَا فُلَانٌ فَمَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَوْعِظَةٍ
أَشَدَّ غَضَبًا مِنْ يَوْمِئِذٍ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ مُنَفِّرُونَ
فَمَنْ صَلَّى بِالنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ فِيهِمْ الْمَرِيضَ وَالضَّعِيفَ وَذَا
الْحَاجَةِ
Artinya: Shahih
Bukhari 88: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir berkata: telah
mengabarkan kepada kami Sufyan dari Ibnu Abu Khalid dari Qais bin Abu Hazim
dari Abu Al Mas'ud Al Anshari berkata:
Seorang sahabat
bertanya: "Wahai Rasulullah, aku hampir tidak sanggup shalat yang dipimpin
seseorang dengan bacaannya yang panjang." Maka aku belum pernah melihat
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberi peringatan dengan lebih marah dari
yang disampaikannya hari itu seraya bersabda: "Wahai manusia, kalian
membuat orang lari menjauh. Maka barangsiapa shalat mengimami orang-orang
ringankanlah. Karena diantara mereka ada orang sakit, orang lemah dan orang
yang punya keperluan."
Dalam hadist
tersebut menceritakan seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang
ketidaksanggupannya shalat yang dipimpin seorang imam dengan bacaannya yang
panjang. Orang itu merasa lelah karena shalatnya lama. seolah-olah si imam
memanjangkan shalatnya sehingga dia belum ruku’ tapi sudah lelah, dan hampir
saja dia tidak bisa menyempurnakan shalatnya bersama imam. Lalu Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab dan memberi peringatan dengan lebih marah
atau tegas. Karena diantara orang yang mengikuti jamaah itu ada orang sakit,
lemah atau tidak mampu dan juga mungkin memiliki keperluan.
Hadist
lain yang juga menjelaskan mengenai metode mau’idhoh Rasulullah yakni HR.
Bukhari No. 5932, HR. Muslim No. 5047-5048, HR. Tirmidzi No. 2783. Berikut ayat
serta artinya:
صحيح البخاري ٥٩٣٢: حَدَّثَنَا عُمَرُ
بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ حَدَّثَنِي شَقِيقٌ قَالَ
كُنَّا نَنْتَظِرُ عَبْدَ اللَّهِ
إِذْ
جَاءَ يَزِيدُ بْنُ مُعَاوِيَةَ فَقُلْنَا أَلَا تَجْلِسُ قَالَ لَا وَلَكِنْ أَدْخُلُ
فَأُخْرِجُ إِلَيْكُمْ صَاحِبَكُمْ وَإِلَّا جِئْتُ أَنَا فَجَلَسْتُ فَخَرَجَ عَبْدُ
اللَّهِ وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِهِ فَقَامَ عَلَيْنَا فَقَالَ أَمَا إِنِّي أَخْبَرُ بِمَكَانِكُمْ
وَلَكِنَّهُ يَمْنَعُنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الْأَيَّامِ
كَرَاهِيَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا
Artinya:
Shahih
Bukhari 5932: Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh telah menceritakan
kepada kami Ayahku telah menceritakan kepada kami Al A'masy dia berkata: telah
menceritakan kepadaku Syaqiq dia berkata: Kami pernah menunggu Abdullah,
tiba-tiba Yazid bin Mu'awiyah datang, maka kami berkata kepadanya:
"Tidakkah anda duduk?." Dia menjawab: 'Tidak, namun aku akan masuk
dan akan mengeluarkan saudara kalian (Abdullah) kepada kalian atau kalau tidak,
aku akan datang dan duduk.' Setelah itu Abdullah keluar dengan menggandeng
tangannya Yazid, lalu dia berdiri di hadapan kami seraya berkata: 'Sesungguhnya
aku telah diberitahu keadaan kalian, akan tetapi ada suatu hal yang
menghalangiku untuk keluar kepada kalian. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam mengatur (penyampaian) nasehat pada kami dalam beberapa hari
karena tidak mau membuat kami jemu.'
HR. Muslim No.
5047-5048
صحيح مسلم ٥٠٤٧: حَدَّثَنَا أَبُو
بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ ح و حَدَّثَنَا
ابْنُ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ
شَقِيقٍ قَالَ
كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ بَابِ عَبْدِ
اللَّهِ نَنْتَظِرُهُ فَمَرَّ بِنَا يَزِيدُ بْنُ مُعَاوِيَةَ النَّخَعِيُّ فَقُلْنَا
أَعْلِمْهُ بِمَكَانِنَا فَدَخَلَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَلْبَثْ أَنْ خَرَجَ عَلَيْنَا
عَبْدُ اللَّهِ فَقَالَ إِنِّي أُخْبَرُ بِمَكَانِكُمْ فَمَا يَمْنَعُنِي أَنْ أَخْرُجَ
إِلَيْكُمْ إِلَّا كَرَاهِيَةُ أَنْ أُمِلَّكُمْ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الْأَيَّامِ مَخَافَةَ
السَّآمَةِ عَلَيْنَا
حَدَّثَنَا
أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ ح و حَدَّثَنَا مِنْجَابُ بْنُ
الْحَارِثِ التَّمِيمِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ مُسْهِرٍ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ
إِبْرَاهِيمَ وَعَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ قَالَا أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ ح و
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ كُلُّهُمْ عَنْ الْأَعْمَشِ بِهَذَا
الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ وَزَادَ مِنْجَابٌ فِي رِوَايَتِهِ عَنْ ابْنِ مُسْهِرٍ قَالَ
الْأَعْمَشُ وَحَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ مُرَّةَ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ مِثْلَهُ
Shahih Muslim 5047:
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan
kepada kami Waki' dan Abu Mu'awiyah. Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair
dan teks hadits miliknya, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al
A'masy dari Syaqiq berkata: Kami duduk di dekat pintu Abdullah seraya
menantinya, lalu Yazid bin Mu'awiyah An Nakha'i melewati kami, kami berkata
padanya: Beritahukan keberadaan kami padanya. Ia masuk, tidak lama kemudian Abdullah
keluar lalu berkata: Aku telah diberitahu keberadaan kalian dan tidak ada yang
menghalangiku untuk keluar menemui kalian kecuali karena aku tidak ingin
membuat kalian jemu. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam mengatur
(penyampaian) nasehat bagi kami dalam beberapa hari karena khawatir kami jemu.
Telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al Asyuj telah menceritakan kepada
kami Ibnu Idris. Telah menceritakan kepada kami Minjab bin Al Harits At Taimi
telah menceritakan kepada kami ibnu Mushir. Telah menceritakan kepada kami Ishaq
bin Ibrahim dan Ali bin Khaysram keduanya berkata: Telah mengkhabarkan kepada
kami Isa bin Yunus. Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar telah
menceritakan kepada kami Sufyan, semuanya dari Al A'masy dengan sanad ini
dengan matan serupa. Minjab menambahkan dalam riwayatnya: Dari Ibnu Mushir. Al
A'masy berkata: Telah menceritakan kepadaku Amru bin Murrah dari Syaqiq dari Abdullah
sepertinya.
صحيح مسلم ٥٠٤٨: و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ
بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي
عُمَرَ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا فُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ شَقِيقٍ
أَبِي وَائِلٍ قَالَ
كَانَ
عَبْدُ اللَّهِ يُذَكِّرُنَا كُلَّ يَوْمِ خَمِيسٍ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا أَبَا عَبْدِ
الرَّحْمَنِ إِنَّا نُحِبُّ حَدِيثَكَ وَنَشْتَهِيهِ وَلَوَدِدْنَا أَنَّكَ حَدَّثْتَنَا
كُلَّ يَوْمٍ فَقَالَ مَا يَمْنَعُنِي أَنْ أُحَدِّثَكُمْ إِلَّا كَرَاهِيَةُ أَنْ
أُمِلَّكُمْ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَخَوَّلُنَا
بِالْمَوْعِظَةِ فِي الْأَيَّامِ كَرَاهِيَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا
Shahih
Muslim 5048: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah
mengkhabarkan kepada kami Jarir dari Manshur. Telah menceritakan kepada kami Ibnu
Abi Umar, teks hadits miliknya, telah menceritakan kepada kami Fudhail bin
Iyadh dari Manshur dari Syaqiq Abu Wa`il berkata: Abdullah menyampaikan nasehat
untuk kami setiap hari kamis lalu seseorang berkata padanya: Hai Abu
Abdurrahman, kami menyukai penyampaianmu. Kami ingin kau menceritakan kepada
kami setiap hari. Abdullah berkata: Tidak ada yang menghalangiku untuk
menceritakan kepada kalian selain karena aku tidak ingin membuat kalian jemu.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam mengatur (penyampaian) nasehat pada
kami dalam beberapa hari karena tidak mau membuat kami jemu.
HR. Tirmidzi 2783
سنن الترمذي ٢٧٨٣: حَدَّثَنَا أَبُو
هِشَامٍ الرِّفَاعِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ
قَالَ
سُئِلَتْ عَائِشَةُ وَأُمُّ سَلَمَةَ
أَيُّ الْعَمَلِ كَانَ أَحَبَّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَتَا مَا دِيمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ
قَالَ
أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ
هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ أَحَبُّ الْعَمَلِ
إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا دِيمَ عَلَيْهِ حَدَّثَنَا
بِذَلِكَ هَارُونُ بْنُ إِسْحَقَ الْهَمْدَانِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ عَنْ هِشَامِ
بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ نَحْوَهُ بِمَعْنَاهُ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Sunan Tirmidzi 2783:
Telah menceritakan kepada kami Abu Hisyam Ar Rifa'I telah menceritakan kepada
kami Ibnu Fudlail dari Al A'masy dari Abu Shalih ia berkata: 'Aisyah dan Ummu
Salamah pernah ditanya tentang amalan apakah yang paling disukai Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam?" keduanya menjawab: "Amalan yang dilakukan
secara terus menerus sekalipun sedikit." Abu Isa berkata: Dari jalur ini,
hadits ini hasan gharib. Dan telah diriwayatkan dari Hisyam bin 'Urwah dari Ayahnya
dari 'Aisyah bahwa dia berkata: "Amalan yang paling disukai oleh
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah yang dikerjakan secara terus
menerus." Harun bin Ishaq Al Hamdani telah menceritakan yang demikian
kepada kami, telah menceritakan kepada kami 'Abdah dari Hisyam bin 'Urwah dari Ayahnya
dari 'Aisyah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan matan hadits yang
semakna dengannya, hadits ini hasan shahih.
KESIMPULAN
Diantara
hadist-hadist yg menjelaskan metode mau’idhah yang dilakukan Rasulullah yakni: HR.
Bukhari No. 88, yang bermakna Rasulullah tegas ketika memberi nasihat dan
pengajaran jika melihat sesuatu yang dibenci; HR. Bukhari No. 5932 yang bermakna
Rasulullah memberi nasehat dengan waktu yang tepat dan waktu demi waktu; HR.
Muslim 5047-5048 yang bermakna Rasulullah secara sederhana dalam memberi
nasehat; dan HR. Tirmidzi No. 2783 yang bermakna Rasulullah selalu menggunakan
kefasihan dan kata yang indah dalam bertutur.
Komentar
Posting Komentar