Menghindari Model Dakwah yang Menimbulkan Kejenuhan

 

Menghindari Model Dakwah yang Menimbulkan Kejenuhan

PENDAHULUAN

Islam adalah agama yang menganut dan mengatur segala aspek kehidupan manusia untuk mencapai keridhaan Allah SWT. Dan dakwah adalah jalan menuju Islam. Artinya adalah panggilan dari Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW kepada umat manusia untuk mengikuti ajaran Islam, dengan iman dan ketaatan kepada Allah SWT. Dakwah artinya mengajak, menyeru, menyampaikan nasihat kepada manusia, menyeru kepada kebenaran kebaikan supaya taat kepada Allah dan meninggalkan larangan Allah SWT.

Dakwah merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Kewajiban ini terkait dengan upaya untuk meningkatkan kesadaran dan pendalaman pemahaman, keyakinan, dan pengalaman ajaran Islam. Sehingga dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dan berdampak positif bagi kehidupan masyarakat, bahkan lebih baik dari sebelumnya. dan dakwah juga ditujukan kepada siapa saja agar mereka memahami tentang Islam yang benar dan mereka dapat menerima Islam sebagai pedoman hidup.

Dalam berdakwah tentunya harus memiliki pengetahuan yang dalam dan benar. Karena kita harus menyampaikan sesuatu yang benar dan sesuai dengan syariat islam. Tak hanya pengetahuan yang luas, akan tetapi banyak hal-hal yang harus kita penuhi saat kita menyampaikan dakwah kepada orang lain agar dapat dipahami dan diterima dengan mudah oleh orang yang mendengarkan dakwah kita. Selain itu kita harus mengetahui bagaimana menghindari model dakwah yang menimbulkan kejenuhan. Jika pendengar dakwah kita merasa jenuh dengan dakwah yang kita sampaikan, maka mereka pasti sulit untuk memahami dan menerima pesan dari dakwah kita. Pada kesempatan kali ini penulis akan sedikit mengkaji bagaimana menghindari model dakwah yang menimbulkan kejenuhan dalam suatu hadist yang telah diriwayatkan.

 

PEMBAHASAN

Salah satu hadist hadist yang menerangkan bagaimana menghindari model dakwah yang menimbulkan kejenuhan yakni Hadits riwayat Imam Muslim, no. 5047:

صحيح مسلم ٥٠٤٧: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ شَقِيقٍ قَالَ

كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ بَابِ عَبْدِ اللَّهِ نَنْتَظِرُهُ فَمَرَّ بِنَا يَزِيدُ بْنُ مُعَاوِيَةَ النَّخَعِيُّ فَقُلْنَا أَعْلِمْهُ بِمَكَانِنَا فَدَخَلَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَلْبَثْ أَنْ خَرَجَ عَلَيْنَا عَبْدُ اللَّهِ فَقَالَ إِنِّي أُخْبَرُ بِمَكَانِكُمْ فَمَا يَمْنَعُنِي أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ إِلَّا كَرَاهِيَةُ أَنْ أُمِلَّكُمْ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الْأَيَّامِ مَخَافَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا

حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ ح و حَدَّثَنَا مِنْجَابُ بْنُ الْحَارِثِ التَّمِيمِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ مُسْهِرٍ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ قَالَا أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ كُلُّهُمْ عَنْ الْأَعْمَشِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ وَزَادَ مِنْجَابٌ فِي رِوَايَتِهِ عَنْ ابْنِ مُسْهِرٍ قَالَ الْأَعْمَشُ وَحَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ مُرَّةَ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ مِثْلَهُ

Artinya:

Shahih Muslim 5047: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' dan Abu Mu'awiyah. Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dan teks hadits miliknya, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Syaqiq berkata: Kami duduk di dekat pintu Abdullah seraya menantinya, lalu Yazid bin Mu'awiyah An Nakha'i melewati kami, kami berkata padanya: Beritahukan keberadaan kami padanya. Ia masuk, tidak lama kemudian Abdullah keluar lalu berkata: Aku telah diberitahu keberadaan kalian dan tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian kecuali karena aku tidak ingin membuat kalian jemu. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam mengatur (penyampaian) nasehat bagi kami dalam beberapa hari karena khawatir kami jemu. Telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al Asyuj telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris. Telah menceritakan kepada kami Minjab bin Al Harits At Taimi telah menceritakan kepada kami ibnu Mushir. Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Ali bin Khaysram keduanya berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Isa bin Yunus. Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan, semuanya dari Al A'masy dengan sanad ini dengan matan serupa. Minjab menambahkan dalam riwayatnya: Dari Ibnu Mushir. Al A'masy berkata: Telah menceritakan kepadaku Amru bin Murrah dari Syaqiq dari Abdullah sepertinya.

 

Dalam hadist tersebut dijelaskan bahwa dalam menyampaikan dakwah yang berupa nasehat, Rasulullah menyampaikannya dengan cara yang berangsur-angsur selama beberapa hari. Cara ini beliau gunakan karena beliau khawatir jika para sahabat merasa jenuh dan bosan dengan apa yang disampaikan beliau, yang akan menimbulkan tidak dapat diterimanya nasihat yang beliau sampaikan.

KESIMPULAN

Tak hanya pengetahuan yang luas, akan tetapi banyak hal-hal yang harus kita pahami saat kita menyampaikan dakwah kepada orang lain agar dapat dipahami dan diterima dengan mudah oleh orang yang mendengarkan dakwah kita. Salah satunya yakni kita harus mengetahui bagaimana menghindari model dakwah yang menimbulkan kejenuhan. Jika pendengar dakwah kita merasa jenuh dengan dakwah yang kita sampaikan, maka mereka pasti sulit untuk memahami dan menerima pesan dari dakwah kita. Pada hadits shahih Muslim nomor 5047 dijelaskan bahwa salah satu metode yang digunakan rasulullah untuk menghindari kejenuhan dari mad’u yakni menyampaikan dakwah dengan cara berangsur-angsur.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takhrij Hadits Tentang Perintah Tabligh Walau Satu Ayat